Hujan terus mengguyur Jakarta pagi ini. Sampai pukul 12, cuaca masih gelap walaupun hujan sudah mulai berhenti. Mendung menggelayut, seakan tak sabar untuk turun menjadi hujan.
Suasana di Eden masih sepi karena puasa bicara. Ada yang betul-betul tak membuka mulutnya alias berkomunikasi melalui tulisan di kertas. Ada juga beberapa yang masih membuka mulut sedikit, berkata-kata tanpa suara; alias mengecilkan volume bicara.
Diantara yang tanpa suara, ada juga aliran keras, yang galak dan mengingatkan orang lain untuk mengatupkan mulut. Katanya ini sesuai arahan Bunda. Padahal, bunyi surat Bunda yang ada kata-kata mengatupkan mulut itu hanya satu kalimat, bunyinya: “Pejamkan matamu, dan katupkan bibirmu dan kuatkan tekadmu untuk total menempuh Titah Tuhan yang wajib kita jalani dengan seksama”.
Dalam pemahamanku, konteks dari kalimat itu adalah dorongan kepada komunitas Eden agar berani terjun bebas dan menutup mata dari pertimbangan apapun untuk melaksanakan perintah ini. Nah, kalau dimaknai harfiah alias letterlijk, selain mengatupkan mulut berarti harus menutup mata, donk? Apa iya seperti itu?
Begitulah. Di tempat manapun sebenarnya tak ada pemahaman yang monolitik, termasuk di Eden. Dengan pengalaman hidupnya masing-masing, setiap orang menafsir dan berusaha melaksanakan ajaran Tuhan sebaik-baiknya menurut pemahamannya. Bahkan Bunda pun terlibat dalam menafsir perintah Tuhan; tak Bunda pun dinilai salah oleh Tuhan. Hanya saja, tafsir Bunda itu selalu dijalani karena beliau adalah pemimpin di Eden dan seluruh komunitas Eden ikut jatuh bangun mengikuti Bunda.
Pengamatan terhadap Eden itu membuatku semakin yakin dengan prinsip dasar mengenai keragaman, yang menyertai kesucian mutlak yang sedang diajarkan Tuhan pada saat ini.



Kemana perginya situs http://www.le2-34-777.info ? Terimakasih.
November 28th, 2009 at 7:10 pm
Kelihatannya lupa dibayar hostingnya mas. Hari ini sudah muncul lagi. Terima kasih informasinya ^_^
November 30th, 2009 at 6:20 pm