Pagi ini terasa dingin. Langit mendung. Matahari tak menyembulkan dirinya dari ufuk Timur. Aspal di jalan terlihat masih basah oleh hujan yang turun sejak semalam, mungkin hingga pagi dini hari ini.
Walaupun hari terasa lebih sendu dan suasana di Eden sepi karena sedang puasa bicara, aku tak merasakan energi yang buruk ketika keluar kamar pagi ini. Ketenangan dan kesejukan terasa memancar dari hati-hati yang sedang berdamai dengan dirinya dan sekitarnya.
Hari ini adalah hari ke-4 puasa bicara, sejak dimulainya puasa bicara hari Minggu malam yang lalu. Tanpa terasa, sudah empat hari puasa bicara berjalan tanpa terasa. Selama empat hari ini, surat-surat Bunda terus datang dari Rutan Pondok Bambu sebagai cara komunikasi Bunda dengan Eden. Banyak hal yang diceritakan Bunda, termasuk apa-apa yang dirasakannya di dalam keseharian menjalani puasa bicara dan tinggal hanya di dalam selnya yang sempit.
Dari cerita-cerita yang tertuliskan Bunda selama Kedap dan puasa bicara ini, aku bersyukur bahwa Tuhan menyelenggarakan ibadah Kedap dan Puasa Bicara ini. Kondisi ini “memaksa” Bunda untuk berkomunikasi dengan tertulis, sebuah hal yang pasti tak disukai beliau karena pada dasarnya beliau adalah orang lisan. Dan dari tulisan Bunda itu, terdokumentasikanlah proses-proses spiritual yang Bunda alami, yang memberikan latar belakang berharga mengenai kondisi psikologis dan suasana pada saat ini. Latar belakang ini -menurutku- berharga untuk memahami bagaimana proses pengajaran Ruhul Kudus dan Wahyu Tuhan itu turun.
Dulu, aku mencoba menafsir dari potongan-potongan penjelasan Ruhul Kudus dan cerita-cerita lisan Bunda untuk memahami proses pewahyuan yang turun melalui Bunda. Sekarang, cerita-cerita itu ditulis sendiri oleh Bunda.
Terima kasih Tuhan…




Salam,
Boleh tahu wahyu yang dituliskan oleh bunda?
November 26th, 2009 at 3:27 pm
Pada waktunya nanti pasti akan dibuka untuk publik mas. Kelihatannya masih dalam proses yang bersambung..
November 30th, 2009 at 6:21 pm