Ada oleh seorang anak muda yang tiba-tiba saja sudah datang ke Eden dan menetap di Jakarta. Dia tinggalkan semuanya untuk panggilan imannya; pendidikan yang sedang dijalaninya, juga keluarga dan semua yang dimilikinya.

Panggilan ilahi atau panggilan iman memang aneh. Bentuknya tak terlihat, seringkali dianggap tidak masuk akal bagi orang lain. Tapi bagi yang mengalaminya sendiri, panggilan itu bukan hanya masuk akal, tapi sangat-sangat menggairahkan. Magnet Ilahi itu sangat kuat dan luar biasa, tak bisa dielakkan oleh siapapun yang memang benar-benar merindukan-Nya dan nuraninya terbuka atas apapun kehendak Tuhan yang harus dijalaninya.

Anak muda itu umurnya baru 22 tahun. Dia besar dan terdidik baik dengan tradisi Islam di pesantren. Selepas SD, dia meninggalkan kota Salatiga yang menjadi tempat tinggalnya untuk menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo. Sudah sembilan tahun pendidikan di Gontor dijalaninya, tiba-tiba dia “baru” mendengar tentang Eden. Dia memang pernah mendengar selintas tentang Eden, tapi baru Januari 2009 ini hatinya tertarik mendengar berita tentang Eden.

Dia tertarik, mengkajinya dengan hati dan rasionalitasnya. Tak sampai dua bulan, dia membuat keputusan besar. Kuliah yang sedang dijalaninya di Gontor ditinggalkannya untuk kecintaannya kepada Tuhan dan panggilan imannya. Dia memutuskan untuk bertemu dengan Imam Mahdi Muhammad Abdul Rachman. Dia juga ingin melihat, terlibat dan belajar langsung dari Ruhul Kudus, sang guru kehidupan.

Kehidupan nyaman yang selama ini dijalaninya dilepaskannya. Masa depan yang “pasti” ditukarnya dengan kegairahan pada panggilan Ilahi yang penuh ketidakpastian untuk masa depannya. Menurutnya, jalan Tuhan lebih pasti daripada masa depan pasca kuliahnya.

***

Kegairahan iman senantiasa menggentarkan. Kesediaan berkorban dan melampaui diri selalu meneteskan air kehidupan, membasahi dahaga akan cinta-Nya. Sebagaimana gentarnya kita melihat kegairahan dan kecintaan kepada Tuhan yang dijalani para kekasih Tuhan di manapun. Sebagaimana basahnya hati kita oleh pengorbanan-pengorbanan mereka.

Iman yang dihidupi dengan pengorbanan diri adalah iman yang hidup, yang menggairahkan dan menggerakkan. Itulah iman yang digerakkan oleh kecintaan kepada Tuhan melampaui apapun. Iman yang melampaui doktrin dan kepentingan diri untuk hidup nyaman. Itulah iman yang menjadi benih keajaiban-keajaiban kemanusiaan, yang dapat menjadi berkah untuk kemanusiaan dan kebajikan semesta.

Iman yang disertai kesediaan mengorbankan diri adalah iman yang hidup, tanah yang subur untuk tumbuhnya benih-benih kebajikan yang sejati. Tanah yang subur itulah yang memungkinkan benih iman dan kebajikan menjadi pohon yang indah dan berbuah manis; yang bukan hanya memberikan manfaat besar bagi sekitarnya, tapi juga menghasilkan benih-benih kebajikan lain yang akan menyebar ke semesta terbawa oleh angin dan kaki-kaki lebah yang hinggap di bunganya.

Amin.

Artikel Terkait


No Comments

You can track this conversation through its atom feed.

No one has commented on this entry yet.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:D :-) :( :o 8O :? 8) :lol: :x :P :oops: :cry: :evil: :twisted: :roll: :wink: :!: :?: :idea: :arrow: :| :mrgreen: