Aku merasa sangat beruntung dan bersyukur. Sebab, Tuhan memberikan aku kesempatan untuk menjadi saksi pewahyuan Tuhan di Eden. Aku juga bersyukur karena Tuhan memberikan perkenan kepadaku (dan teman-teman Eden) untuk mengalami persekutuan dengan Ruhul Kudus, yang membuatku lebih dapat menghikmati proses pewahyuan, yang selama ini hanya aku fahami dari teks, yang berjarak ribuan tahun sehingga sangat dimungkinkan untuk bias dari realitas yang sesungguhnya.

Tapi, kesaksian itu bukan sekedar karunia, tapi juga tanggung jawab. Dan ini yang terasa sangat berat, bagaimana mengisahkan hal-hal yang rumit (delicate), yang pasti tak mungkin terpaparkan dengan utuh karena cerita/simbol selalu merupakan simplifikasi dari realitas, bukan realitas itu sesungguhnya. Bercerita dan menulis adalah menuangkan realitas yang kompleks ke dalam simbol-simbol yang terbatas, sembari berharap hal yang dituangkan adalah yang esensi/substansial, tanpa melakukan penyederhanaan yang berlebihan (over-simplified).

Setelah membaca tulisan Luthfi Assyaukanie, dosen Paramadina, dengan judul “Merenungkan Sejarah Alquran“, rasanya hatiku mulai tergerak untuk mulai menuliskan proses pewahyuan di Eden. Mudah-mudahan, proses yang baru aku mulai ini bisa menjadi cermin untuk memahami proses pewahyuan yang ada di dalam tradisi-tradisi agama lain yang sudah berjalan ribuan tahun yang lampau sehingga tak dapat direkonstruksi dan divalidasi lagi.

***

Banyak hal yang bisa dituliskan mengenai proses pewahyuan ini. Tapi ada satu hal yang membuatku langsung tertarik karena manfaat praktisnya, yaitu membuatku dapat lebih berempati dan mengapresiasi Perjanjian Baru. Hal itu adalah mengenai penggunaan kata “aku” yang dalam Perjanjian Baru tak dipisahkan antara Tuhan Bapak dan Yesus. Mengapa bisa sampai demikian?

Apresiasi dan cermin itu muncul di Eden karena pewahyuan itu ternyata bukan suara dari langit (seperti yang ada di film Hollywood). Walaupun disebutkan sebagai suara dari langit, tetapi secara verbal Wahyu Tuhan itu diucapkan oleh seorang manusia, yang dalam konteks Eden diucapkan oleh Bunda Lia.

Bagi para pengikut Eden, mereka terbiasa mengenali perbedaan antara ucapan Bunda Lia, Ruhul Kudus, dan Tuhan. Tetapi bagi orang yang tak biasa atau yang mempunyai doktrin tertentu mengenai bagaimana Wahyu Tuhan turun (mis: melalui mimpi, dalam kondisi tidak sadar, atau suara dari yang tiba-tiba muncul di awan), maka mereka sulit membedakannya. Sebab, tampak lahirnya memang tak berbeda.

Nah, dari proses itu; dimungkinkan ada orang-orang yang salah membuat persaksian; sehingga merancukan antara ucapan Bunda Lia, Ruhul Kudus, dan Tuhan. Dalam contoh ekstrem, orang yang tak percaya menuduh Bunda Lia mengaku Jibril atau Tuhan. Dalam contoh orang beriman, bisa jadi dia mencampur-adukkan antara kata-kata Bunda Lia dengan pernyataan Ruhul Kudus atau Wahyu Tuhan. Bisa jadi orang menganggap ketiga suara itu sama saja. Apalagi, di Eden pun turun Wahyu Tuhan yang menyatakan bahwa apa yang diucapkan Bunda Lia pun adalah dari Tuhan.

Bagi orang yang hanya membaca teks (atau hidup dalam generasi-generasi berikutnya), pencampuran ini sangat dimungkinkan terjadi. Peristiwa ini mungkin bukan diawali oleh niat jahat, tetapi justru timbul karena keinginan untuk menghormati dan memuliakan manusia yang dipilih Tuhan itu. Tapi jika penghormatan dengan cara yang tak tepat itu dilakukan, hal ini bisa berakit pada komplikasi dalam berbagai hal. Seperti yang sering dinasihatkan Ruhul Kudus di Eden, satu derajad kesalahan masa kini bisa menjadi sangat lebar dan berbahaya kalau berjalan dalam rentang waktu ratusan tahun sesudahnya karena proses iterasi dan akumulasi yang terjadi.

Padahal, bagi orang-orang Eden yang hidup pada masa kini; pemisahan ketiga sosok itu clear. Perkataan Bunda berbeda dengan Ruhul Kudus, berbeda dengan Wahyu Tuhan. Bunda adalah Bunda, Ruhul Kudus adalah Ruhul Kudus, Tuhan adalah Tuhan. Walaupun Tuhan menyatakan tingkat keilahian Bunda sebagai bentuk pujian atas pencapaian Bunda, tetapi Bunda juga tetap dipandang sebagai manusia, dengan segala sisi kemanusiaan yang melekat pada beliau. Bunda tetap memiliki keinginan, Bunda juga bisa melakukan kesalahan manusiawi. Bagi kaum Eden, jika Bunda melakukan kesalahan, maka kesalahan itu selalu mendapat pemaknaan spiritual, sebagai sebuah paket pelajaran dari Tuhan.

***

Kondisi ini cukup rumit (secara teologis). Banyak aspek lain yang perlu dibahas dan dieksplorasi. Diantara orang-orang Eden, mungkin mereka juga memiliki sudut pandang dan pemahaman yang berbeda mengenai hal ini. Dan itu adalah hal yang biasa dan natural.

Sebab, Tuhan yang menyejarah bukan lagi tak terbatas. Tetapi, Dia sudah memasuki ruang yang terbatas yang perlu difahami dan ditafsir untuk mendapatkan konteks dan pencerahannya. Oleh karenanya, setiap orang hanya bisa menempatkan dirinya dengan usaha sebaik mungkin, dengan sebuah kerendahan hati bahwa dia bisa saja bersalah atau tak lengkap ketika memahami Dia dan kehendak-Nya.

Demikian juga kedudukan tulisan ini; hanya sebuah sudut pandang saja untuk memahami realitas sosial/spiritual.

Artikel Terkait


No Comments

You can track this conversation through its atom feed.

No one has commented on this entry yet.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:D :-) :( :o 8O :? 8) :lol: :x :P :oops: :cry: :evil: :twisted: :roll: :wink: :!: :?: :idea: :arrow: :| :mrgreen: