Alkisah, di sebuah gurun yang kering dan sedang badai, ada seorang tua renta yang berjalan terhuyung-huyung dengan tongkatnya. Tak tahan menahan beratnya perjalanan, laki-laki tua itu jatuh terkapar di pasir. Tiba-tiba, ada tiga binatang yang mendekat: seekor beruang, anjing hutan, dan kelinci. Melihat laki-laki tua yang terkapar itu, beruang pergi menuju sungai dan kemudian mencari ikan. Anjing hutan itu juga pergi ke sarangnya dan mengambil makanan. Kelinci itu pun pergi ke sarangnya, tapi dia tak menemukan makanan apapun. Dengan sedih dia kembali ke tempat laki-laki tua yang terkapar itu.

Binatang-binatang itu kemudian membangunkan laki-laki yang terlihat kelaparan itu. Kelinci menyarankan untuk membuat api dari ranting-ranting. Ketika api unggun telah terbuat, tiba-tiba kelinci itu melompat ke dalam api. Dia mengorbankan dirinya untuk menjadi makanan. Dalam keterkejutan, laki-laki itu mematikan api. Tapi api telah menghanguskan kelinci itu.

“Tapi Guru Asita, itu tidak mungkin! Seekor kelinci tak mungkin mengorbankan dirinya supaya bisa dimakan oleh manusia!,” kata para murid yang mendengarkan cerita itu.

“Manusia itu guruku, Goshala,” jawab Guru Asita yang mengisahkan pengorbanan kelinci itu. “Dia yang menceritakannya kepadaku. Jadi aku tahu itu benar.”

Kata Guru Asita, Goshala begitu terguncang oleh peristiwa tak masuk akal ini. Sampai-sampai, setelah itu dia turun gunung dengan linglung dan berbaring di ranjang selama 10 hari penuh. Pada saat itulah, dia mencapai pencerahan.

“Dia terus-menerus menceritakan kisah ini kepada para muridnya. Tapi aku tak pernah mencapai pencerahan seperti guruku.”

***

Sebuah peristiwa berikutnya, Naradatta (murid guru Asita) berada dalam perjalanan bersama Tatta, seorang Paria yang memiliki karunia berbicara dengan binatang, dan Ibu Chapra seorang budak yang dibebaskan Tatta. Ketiga sedang dalam perjalanan menuju Kosala untuk mencari Chapra.

Perjalanan menuju Kosala sangatlah berat. Kawanan belalang baru saja menghabiskan tumbuhan. Demikian pun air menjadi beracun dipenuhi belalang mati. Cuaca sedang sangat panas di padang terbuka.

Dalam kondisi kelaparan, tiba-tiba mereka bertemu dengan ular dengan telurnya. Naradatta yang kelaparan sudah tak sabar ingin mengambil telur itu, tapi dicegah oleh Tatta. Dia berkomunikasi dengan ular itu meminta telurnya. Dari Tatta, Naradatta dan ibu Chapra tahu bahwa ular itu bersedia memberikan telurnya, tetapi dia minta salah satu menjadi gantinya, karena dia pun nyaris mati kelaparan.

Singkat cerita, mereka setuju. Dan kemudian diundi siapa yang akan menjadi “korban pengganti”. Yang terpilih ternyata adalah Tatta. Yang luar biasa, Tatta gembira dengan hasil undian itu. Dia menyediakan dirinya untuk ditelan ular.

Dan saat dia ditelah ular, tiba-tiba ada panah yang menancap di kepala ular. Matilah ular itu oleh seorang pemanah yang lewat tempat itu, yang menganggap mereka bodoh karena mau menerima tawaran semacam itu. Yang pasti, Tatta yang telah menyerahkan dirinya sebagai korban selamat dan tak jadi mati.

(Kisah ini ada di dalam komik Buddha, karangan Osamu Tezuka jilid 1: Kapilawastu).

Artikel Terkait


One Comment

You can track this conversation through its atom feed.

  1. Belajar dari pengorbanan kelinci dan Tatta at Detak Nurani says:

    [...] Dan ketika mulai membaca buku pertama, aku agak tersentak menyadari bahwa buku itu dibuka dengan kisah pengorbanan kelinci dan Tatta. [...]

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:D :-) :( :o 8O :? 8) :lol: :x :P :oops: :cry: :evil: :twisted: :roll: :wink: :!: :?: :idea: :arrow: :| :mrgreen: