Pakaian raja
Suatu hari di sebuah kerajaan datang dua orang penjahit yang sebenarnya penipu. Kedua orang penipu itu pandai berkata-kata sehingga raja mempercayai mereka untuk membuatkan pakaian untuknya. Setelah melalui proses yang lama, akhirnya pakaian itu dinyatakan selesai.
“Inilah pakaian indah milik Paduka,” kata penjahit itu. “Dibuat dari benang yang terbuat dari embun yang dingin dan sinar matahari yang memancar. Hanya orang pandai dan terpandang yang dapat melihat keindahannya. Orang yang bodoh tak bisa melihatnya.”
Penjahit itu mengangkat baju yang tak terlihat oleh siapapun yang hadir di sana. Dengan gayanya yang meyakinkan, kedua penjahit itu memajang dan memegangi baju yang baru dibuatnya tersebut.
“Bukankah pakaian ini sangat indah, Perdana Menteri” tanya penjahit itu kepada Perdana Menteri yang mendampingi Raja.
Tertegun dan terkaget-kaget, Perdana Menteri sebenarnya kebingungan karena dia tidak melihat apapun. Tapi karena takut dianggap bodoh, dia pun menganggukkan kepalanya.
“Betul, pakaian itu memang indah sekali.”
“Bagaimana Paduka? Apakah Paduka menyukai pakaian yang indah ini yang telah dipuji oleh Perdana Menteri? Memang pakaian ini benar-benar luar biasa dan hanya orang-orang yang pandai yang dapat melihatnya.”
Tak mau dirinya dianggap bodoh, Raja pun menganggukkan kepala menyetujuinya. Walaupun dia tak bisa melihat pakaian itu, tapi Perdana Menteri telah memujinya. Berarti kata penjahit itu memang benar.
“Bukankah pakaian ini memang indah?” tanya Raja kepada para punggawa yang mengiringinya. Takut berbeda dengan Raja, para punggawa bersahut-sahutan memuji pakaian itu. Dan puncaknya ketika Raja berpawai menggunakan pakaian yang disebutkan terbuat dari embun dan sinar matahari itu.
Semua orang bersorak memuji Raja. Tak ada yang berani mengkritik Raja karena akan mengakibatkan nasibnya dalam bahaya. Sampai tiba-tiba ada anak kecil yang berteriak dengan lantang dari pinggir jalan:
“Hore…lihat Raja telanjang…..!”
***
Kepentingan, terkadang memang melacurkan kejujuran. Keegoan, terkadang memang membutakan diri dari kebenaran.



No Comments
You can track this conversation through its atom feed.
Leave a Reply