Sambil ke Mahoni mengantar draft Duplik YM kemarin malam, aku meminjam novel “The Fifth Mountain” alias “Gunung Kelima” karya Paulo Coelho milik Asfin. Coelho adalah seorang sastrawan dari Brazil yang telah banyak melahirkan karya monumental dan bukunya termasuk paling banyak dibaca di dunia (terjual 43 juta copy di seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam 56 bahasa).
Mengambil setting Israel Kuno, Gunung Kelima mengisahkan pergulatan seorang nabi bernama Elia yang juga disebutkan dalam Perjanjian Lama. Berbeda dengan Kitab Suci yang ringkas, novel ini mencoba menggambarkan dinamika sosial dan pergulatan psikologi Elia ketika menjalankan pesan-pesan Tuhan yang seringkali tak dimengertinya atau sulit dijalankan.
Dialog-dialognya menarik dan sangat mendalam. Menurutku, ini sebuah karya yang luar biasa. Dia dapat masuk ke dalam suasana psikologis seorang Utusan Tuhan dan menguak dilema psikologis yang rumit ketika menjalankan pesan-pesan Tuhan. Seolah-olah Coelho sendiri mengalami pergulatan spiritual itu.
“Kalau membaca buku Coelho, aku teringat teman-teman Komunitas Eden. Mungkin kalian akan mengatakan: ‘itu aku’,” kata Asfinawati, Direktur LBH Jakarta yang juga Ketua Aliansi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKBB) saat meminjamkan buku itu kepada YM.
“Tuhan menyukai hamba-Nya yang bergelut dengan-Nya,“ kata Coelho di dalam bukunya itu sambil mengutip pergulatan simbolik antara Yaqub dengan Tuhan di dalam kisah Perjanjian Lama.
Secara pribadi, aku menyukai sudut pandang agama sebagai sebuah pergulatan spiritual, bukan seperangkat doktrin dan aturan-aturan. Bertuhan adalah bergulat, mengalahkan diri, menaiki tangga-tangga kualitas spiritual, meningkatkan diri dari memperturutkan egoisme hingga mampu melepaskan berhala pribadi, serta menyatu bersama Tuhan meniti jalan ketidakmungkinan manusiawi.
It’s great. Novel Coelho itu indah dan menarik. To some extent, aku merasa bahwa Tuhan sedang memberikan jawaban atas pergulatan-pergulatan pribadiku.
Buku itu mencerahkan dan menguatkanku. Terima kasih Tuhan. Setapak demi setapak langkahku mulai ditegakkan-Nya. Sejengkal demi sejengkal pengertianku disingkap-Nya. Bukan dengan cara dan waktu seperti yang kuinginkan, memang.
Aku siap meniti jalan kembali bersama saudara-saudaraku yang setia di Eden.
Terima kasih Tuhan.



No Comments
You can track this conversation through its atom feed.
Leave a Reply