Kelelahan menyergap dengan cepat dalam diriku. Walaupun secara fisik aku sehat, secara mental aku lelah sekali. Rasanya seperti burn-out, kelelahan yang tak tertahankan. Fatique.
Sejak percakapan pertama mengenai pulang kampung itu, aku tak pernah berbicara dengan Lala mengenai apa-apa yang sedang kualami. Secara kasat mata, kami menjalani hidup seperti biasa. Kami berusaha menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kami secara normal.
Hanya saja, ada satu pekerjaan yang tak kunjung mampu kukerjakan. Seharusnya, aku sudah mulai membantu YM menyiapkan Duplik untuk persidangan 8 November 2006. Tapi hatiku tak kunjung tergerak untuk memulai. Betapapun aku mencoba, bahkan dengan cara menghidupkan komputer dan memaksa untuk menulis, tak satu pun yang keluar. Saat YM mengirimkan materi Duplik untuk diedit, aku pun ternyata tak kuasa memulainya.
Kelelahan begitu menyergapku. Fisikku sehat, tapi hatiku mati. Hatiku serasa tertutup sehingga tak ada lagi malaikat yang biasa menyentuh nuraniku.
Kekecewaan dan kemarahan itu ternyata sangat dalam. Ketakmengertian terhadap Tuhan yang tak menemukan pelampiasannya itu ternyata memukul sisi lain, yaitu sisi dalamku.
Aku memang tak melampiaskan kekecewaan dan kemarahanku kepada Tuhan. Tapi aku menjadi apatis. Aku tak peduli lagi..
Beberapa kali aku berusaha bangkit dan menguatkan diriku, ternyata aku tak mampu. Aku sudah berada dalam kelelahan yang tak tertahankan.
“Aku ingin memahami Engkau Tuhan. Aku ingin tak kecewa dan marah kepada-Mu. Tapi aku tak mampu….,” hanya ratapan dalam hati yang tersisa dalam tubuhku yang terguncang oleh pergolakan ini.
“Aku mencintai-Mu, Tuhan. Tapi aku tak mengerti. Aku tak tahan. Aku lelah sekali…”



December 31st, 2009 at 10:46 am
Luar biasa…..
March 9th, 2010 at 12:54 am