Hari Berkabung
“Dan kepadamu, wahai Jibril, titah-Ku menjadikan bangsa Indonesia suci.
Dan kepadamu, Jibril, Aku memastikan keadaan bangsa ini
sebagai bangsa yang terkutuk
dan menjadi bangsa yang hina, bangsa besar yang dihinakan.”
(Wahyu Tuhan di Majelis Pengkajian Eden, 4 Sept 2004)
Hiasan pada Majelis Pengkajian pada hari Sabtu di Komunitas Eden tanggal 4 September 2004 disaput warna hitam diantara kain putih yang terhampar di lantai dan rangkaian bunga di depan majelis. Di depan ruang majelis telah terbentang kain hitam yang menjadi latar dari wadah kaca berisi Melati dan tabung kaca berisikan bunga Mawar putih, dua kuntum bunga Matahari dan serumpun Kaspia. Pada dinding rangkaian yang telah dicat hitam terdapat tujuh baris tanaman yang berbeda-beda. Bagian atas dinding terdapat bantal merah berbentuk hati bertuliskan ‘With Love’. Pada ranting-ranting pohon Shian To yang menjadi ‘penyangga’ di sudut ruang majelis dipasang kain hitam yang senantiasa melambai tertiup kipas angin.
Majelis Paduka Maharaja Ruhul Kudus dibuka pada pukul 14.45 dengan Kidung Langit “Surga Eden” dan doa pembuka oleh Arifin Djauhari (Arifin). Pada awal pengajarannya hari itu, Ruhul Kudus menjelaskan tentang nuansa hitam yang ada dalam majelis Ruhul Kudus sebagai tanda perkabungan atas kegelapan dunia yang sedang mengemuka, perkabungan untuk seluruh makhluk. Tragedi pembunuhan ratusan sandera di Beslan Rusia, bencana alam yang merebak di mana-mana, pembunuhan-pembunuhan keji semacam mutilasi yang menunjukkan eksistensi iblis telah menyatu pada manusia.
Tetapi diantara warna hitam yang mengemuka, Ruhul Kudus menyatakan bahwa warna putih tetap menjadi warna yang dominan di Majelis Eden karena majelis Eden adalah majelis Tuhan yang sedang membawakan cahaya terang dan cinta yang mencerahkan. Walaupun saat ini masih samar-samar, cahaya itu sedang dibangun oleh Ruhul Kudus di Eden dan akan memancar menerangi seluruh dunia.
Hari itu prosesi merangkai bunga yang dilakukan Paduka Bunda Lia Eden diiringi oleh permainan keyboard Siti Zainab Luxfiati (Dunuk) yang disebutkan oleh Ruhul Kudus sebagai komposer baru, menambah deretan komposer yang sudah ada. Setelah Dunuk, Feri A. Latief (Feri) juga diminta untuk memainkan keyboard dan mengiringi proses Bunda Lia merangkai bunga.
Prosesi perkabungan dinyatakan Ruhul Kudus pada hari itu. Ruhul Kudus menyatakan bahwa waktu pensucian bangsa Indonesia telah sampai. Negeri ini sedang diruntuhkan Tuhan. Proses peruntuhan itu akan dinyatakan dalam bentuk tertampilkannya semua dosa yang ada di negeri ini ke permukaan, seakan-akan dosa-dosa itu bergemuruh dinyatakan Tuhan. Kejahatan dan kesalahan dibongkar ke publik, orang yang membongkar pun dibongkar kejahatannya karena dia sendiri tak suci. Para pendosa terbongkar dosa-dosanya ke publik dan menjadi hukuman bagi dirinya.
Kata Ruhul Kudus, “Bila kau telah melihat Allah ingin menjadikan Surga di negeri ini, bisakah bercampur aduk antara kebenaran dan dosa? Bila orang yang menyatakan kebenaran itu benar sebagian dan sebagian lagi dosa, dapatkah hal itu menjadi pembasuh dosa? Tidak. Yang bisa membasuh dosa adalah kesucian dan itu adalah malaikat. Dan bila kami membasuh, tak ada rasa dendam, tak ada sentimen, tak ada keinginan pribadi. Kalau tak ada kebenaran lagi di negeri ini, dapatlah kiranya kami dipahami bila kami harus meruntuhkan negeri ini.”
Ruhul Kudus pun membayangkan betapa berat penghakiman itu sebagaimana pedihnya Kaum Eden di dalam penghakiman dan pensucian Tuhan. Dan setelah meminta Mira Julia (Lala) menyanyikan Kidung Langit “Kemelut Bangsa”, Ruhul Kudus memanjatkan doa yang diamini oleh seluruh Kaum Eden.
Ya Allah, ya Tuhan kami yang tercinta, sayangilah semua anak-anakku ini, ya Allah. Lindungilah dan ayomilah mereka, Tuhan.
Ya Allah, kumohonkan kepada-Mu, sayangilah bangsa Indonesia, ya Allah, sayangilah mereka yang beriman, Tuhan, sayangilah mereka orang-orang yang baik.
Ya Allah, ya Rabb, di dalam kesedihan hamba ini, Tuhan, di dalam luka hati hamba ini, Tuhan, kumohonkan doa kepada-Mu, ya Allah, turunkanlah berkah, rahmat dan pertolongan-Mu kepada semuanya yang Engkau cintai. Namun, perkenankan hamba melaksanakan titah-Mu, ya Allah, titah-Mu untuk menghakimi semuanya, titah-Mu menjadikan negeri dan bangsa ini menjalani hukuman-Nya. Tuhan, perkenankan hamba menghancurkan negeri ini, Tuhan, atas titah-Mu, ya Allah.
Pada hari itu turun Wahyu Tuhan mengenai bangsa Indonesia:
Dan kepadamu, wahai Jibril, titah-Ku menjadikan bangsa Indonesia suci. Dan kepadamu, Jibril, Aku memastikan keadaan bangsa ini sebagai bangsa yang terkutuk dan menjadi bangsa yang hina, (Paduka Bunda Ratu terisak) bangsa besar yang dihinakan.
Kusucikan mereka setelah mereka runtuh dan tertinggalkan diantara bangsa-bangsa dan menjadi terkutuk dari kalangan bangsa-bangsa. Kuciptakan tragedi-tragedi yang tak mungkin dilerai dan tak mungkin dapat diatasi. Kubiarkan mereka memohon-mohon kepada-Ku tapi tak Kuberikan mereka jalan keluar. Setelah itu katakanlah bahwa Aku di sini, Kerajaan-Ku di sini.
Binasalah kaum yang menolak Rasul-Ku. Hinalah kaum yang menganiaya Rasul-Ku. Tiada jalan berbalik dan tiada jalan yang terbuka pula. Katakanlah, Aku sudah murka dan takkan menjadikan apa-apa bagi mereka.
Usai acara yang diakhiri dengan doa penutup pada pukul 16.23, Kaum Eden yang beragama Islam melakukan Sholat Taubat dipimpin Imam Mahdi Muhammad Abdul Rahman. Dalam doanya, Imam Mahdi memohonkan pengampunan, kesabaran dan kelapangan bagi siapapun yang beriman dan bersuci agar mampu menjalani semua penderitaan yang sedang diturunkan Tuhan. Kaum Eden kemudian menyantap hidangan Perjamuan Surga berupa bubur jamur, pangsit goreng, bakpau dan soda gembira.



No Comments