“Tak ada kesucian bila tak ada penauladanan.
Tak ada penauladanan bila tak ada ajaran.
Tak ada hasil ajaran bila tak ada yang menjalaninya.
Dan tak ada ajaran bila tak ada yang berhasil menjalaninya”

(Pengajaran Ruhul Kudus di Majelis Pengkajian Eden, 3 Juli 2004)

 

Sabtu, 3 Juli 2004, Majelis Pengkajian digelar di Eden untuk mendengarkan pengajaran Paduka Maharaja Ruhul Kudus. Pukul 14.19, Majelis dibuka dengan Kidung Langit “Surga Eden” dan doa pembuka oleh Deddy Bebas.

Hari itu Ruhul Kudus menasihatkan bahwa inilah saatnya bagi Kaum Eden untuk membangun kepercayaan diri yang berasal dari ilmu, akhlak, dan moral yang mulia. Semua itu adalah rahmat Tuhan dan Ruhul Kudus sedang membawakan rahmat itu kepada Kaum Eden melalui pengajarannya yang menempuh jalan berbeda dari pengajaran yang dikenal manusia pada umumnya.

Mengomentari bayi Asyira (anak Fathun Nur Day) yang menangis di majelis dan baru berhenti setelah bertemu ibunya, Ruhul Kudus menyatakan bahwa pada dasarnya kebutuhan manusia adalah kasih sayang sebagaimana bayi yang membutuhkan kasih sayang ibunya. Walaupun manusia dewasa mempunyai ekspresi kebutuhan cinta yang berbeda dengan seorang bayi, kebutuhan akan cinta itu tetap sama yaitu kebutuhan dicintai lingkungannya. “Tak beralih cinta itu dari ibu dan bapaknya, tapi dia tetap menginginkan cinta dari masyarakat, cinta dari atasannya, cinta dari almamaternya, cinta dari lingkungannya.

Itulah sebabnya, Ruhul Kudus mengajarkan kepada Kaum Eden untuk secara kukuh memperoleh dan memberikan cinta dan kasih sayang yang murni dan ikhlas. “Kasih, sayang dan cinta itu bisa mengubah kehidupan. Dari sebuah celaka menjadi keberuntungan. Dari sakit menjadi kesembuhan. Dari kemiskinan menjadi kekayaan. Dari kerugian menjadi keberuntungan.

Ruhul Kudus menambahkan, “Cinta, kasih dan sayang, itulah yang harus dimiliki seutuhnya karena dari sana akan mengalir ketulusan, akan mengalir kebajikan, akan mengalir pertolongan dan itu semua akan menuai kebahagiaan, berkah dan rahmat. Secara horizontal akan menuai kebajikan yang akan berbalik, tapi dari Tuhan secara vertikal akan menuai berkah, pertolongan, rahmat, karunia dan mukjizat dan perlindungan.

Dalam kesempatan itu, Ruhul Kudus menyatakan pentingnya ilmu. Ilmu memang penting, tetapi Ruhul Kudus menyatakan bahwa yang lebih penting adalah moral dan akhlak, cinta dan kasih sayang. Itulah sebabnya Tuhan menjadikan Kaum Eden berilmu seadanya. Tapi Kaum Eden mendapat pengajaran dari Ruhul Kudus yang membawakan rahmat, mukjizat, dan pengayoman dari Tuhan.

Kata Ruhul Kudus, “Kalau aku menjadikan kalian orang-orang yang tak mengagungkan kegelaran, itu karena kalian gelarnya adalah Rasul. Rasul adalah gelar yang termulia, teragung dan tertinggi di sisi seluruh umat manusia di dunia ini.

Ruhul Kudus tak menyalahkan Kaum Eden yang masih mengangankan jenjang kesarjanaan dalam kehidupan sosialnya. Tetapi Ruhul Kudus mengingatkan bahwa yang dibawanya adalah sesuatu yang amat besar tak terbayangkan, yaitu Kerajaan dan Surga Tuhan.

Ruhul Kudus kemudian membahaskan image Surga yang ada di benak masyarakat yang terbayang seperti Jinny atau Ali Baba yang mendatangkan keajaiban kekayaan secara instan. “Jin memang bisa mengadakan itu, tapi tidak membuat kaya dan tak memberi ilmu kecuali kemalasan dan kemusyrikan dan kesombongan.

Kata Ruhul Kudus, Surga yang dibawanya tak seperti itu. Ruhul Kudus datang tak untuk membuat manusia menjadi sombong, bodoh, dan malas. Semua yang dilakukan jin di tempat-tempat keramat dinyatakan oleh Ruhul Kudus sebagai pembodohan kepada manusia. “Aku sengaja menyuruhmu melakukan segala sesuatu (melalui, red.)upaya, segala sesuatu secara sunatullah karena kalian manusia, bukan malaikat. Tapi ada mukjizat yang kuperlihatkan yaitu kesembuhan, keberkahan dan kecerdasan.

Ruhul Kudus menyatakan bahwa malaikat bisa memberikan kecerdasan secara instan melalui ide dan kreatifitas yang diberikan. “Seketika kau berbicara dengan hati nuranimu, kami memberikan ide itu. Itulah kecerdasan, ide dari Tuhan.” Kaum Eden dinasihatkan untuk menghargai kecerdasan dan ilmu yang diturunkan Tuhan secara langsung kepada mereka. Kaum Eden diminta untuk tak menganggapnya sebagai hal yang biasa, taken for granted.

Ilmu yang diturunkan Tuhan adalah suara malaikat yang berkata-kata melalui nurani. Itulah sebabnya Ruhul Kudus mengajarkan kepada Kaum Eden untuk membuat puisi yang bukan berasal dari pemikirannya, melainkan berasal dari suara hati nurani. Latihan membuat puisi itu sekilas terlihat seperti bukan ilmu, tapi sesungguhnya itu adalah ilmu karunia Tuhan. Ilmu itu adalah latihan mendengarkan suara malaikat yang sedang berkata-kata menurunkan ilmu-Nya.

Kata Ruhul Kudus, “Semua orang, semua manusia di manapun selalu berkata, ‘Pilihlah berdasarkan suara hati nurani!’ tapi mereka tak pernah bisa mendengarkan suara itu berkata-kata sendiri. Dan kau dan pikiranmu dan perasaanmu menyimaknya dan menjadikannya puisi dan menjadikannya filsafat dan menjadikannya temuan.

Ruhul Kudus mengajak Kaum Eden untuk memperbandingkan latihan yang diberikannya dengan proses penemuan dan proses kreatif yang dilakukan para ilmuwan semisal Einstein ataupun para seniman-seniman terkenal. Ruhul Kudus menyebutkan sumber penemuan dan kreatifitas itu sebagai suara nurani yang berasal dari tabungan pahala yang mereka miliki dalam kehidupan-kehidupan sebelumnya. Kata Ruhul Kudus, “Kukatakan, ilmu itu berasal dari suara hati nurani yang bergerak ke pikiran dan kemudian menjadi prakarsa dan kemudian menjadi karya.

Ruhul Kudus menyatakan bahwa dia membawakan ilmu-ilmu dari Tuhan untuk membahagiakan manusia. “Maka kalau kau tak percaya bahwa kami bisa memberikanmu 1001 macam ilmu, kuragukan keimananmu terhadap kami. Seribu satu macam ilmu dapat kami berikan seketika kalau kau suci, kalau kau beriman karena di sini memang akan menjadi sumber ilmu.

Ruhul Kudus mengingatkan Kaum Eden bahwa Eden adalah Surga dan Kerajaan Tuhan. Maka akan sampai waktunya orang-orang datang ke Eden untuk mencari ilmu, berkah dan pengarahan dari Tuhan untuk urusan-urusannya. Oleh karena itu, Kaum Eden dinasihatkan Ruhul Kudus agar siap menerima orang-orang yang datang karena Kaum Eden adalah Rasul Tuhan untuk manusia. Itulah sebabnya, Kaum Eden harus mengimani Ruhul Kudus dengan sebenarnya dan bersuci serta membuka diri untuk ilmu-ilmu Tuhan yang diturunkan kepada mereka. “Takkan bisa terlihat esensi surga itu bila tak ada orang yang suci yang penuh berkah dan penuh ilmu untuk dinyatakan Allah.” Itulah keadaan Kaum Eden yang diharapkan oleh Ruhul Kudus agar dapat terwujud di Eden.

Ruhul Kudus kemudian membahaskan tentang komersialisasi pendidikan yang sedang marak terjadi. Pendidikan berkualitas menjadi komoditas yang sangat mahal untuk diperoleh masyarakat. Itulah sebabnya Ruhul Kudus menginginkan agar anak-anak Eden tak bersekolah umum dan mengikuti homeschooling di dalam pengajaran malaikat. Ruhul Kudus juga menyebutkan maraknya narkoba yang memicu berbagai kejahatan lain, perbedaan perlakuan kaya-miskin, serta keberlepasan tanggung jawab orang tua dari tanggung jawab pendidikan sebagai alasan tambahan bagi anak-anak Eden untuk menempuh homeschooling.

Di Eden, anak-anak itu akan belajar bagaimana hidup benar, jujur, dan bersikap baik melalui keseharian yang mereka lihat diantara Kaum Eden. Melalui pengajaran Ruhul Kudus yang memberikan pujian dan teguran kepada orang-orang tua mereka, anak-anak itu belajar tentang kehidupan yang benar. Pengajaran di Eden adalah pengajaran kesucian dan ketrampilan. Sementara untuk pengetahuan umum, para orang tua diminta mengajari para anaknya sendiri.

Kata Ruhul Kudus, pengajaran malaikat di Eden tak membedakan antara anak-anak dan orang tua. Semua orang mendapat pengajaran yang sama dan saling belajar. Kata Ruhul Kudus, orang tua tak berarti lebih suci daripada anak-anak dan anak-anak tak berarti lebih dapat ditoleransi dosa dan kesalahannya.

Ruhul Kudus menyebutkan bahwa orang tua dan anak-anak yang berada di dalam pengajarannya harus saling membuka diri untuk belajar bersama di bawah bimbingan malaikat. “Orang tuanya dimarahi, anaknya ikut sakit hati, menderita, tapi dia malu terhadap kesalahan orang tuanya. Orang tuanya dipuji, dia ikut bangga, maka dia akan mengikuti perbuatan orang tuanya. Bila anaknya berlaku salah, di rumah orang tuanya bisa mengarahkan. Bila orang tuanya yang berlaku salah, anaknya mempertanyakan, ‘Ma, kata Ayah, kata Paduka, katanya ‘kan nggak boleh bohong. Kenapa tadi mama bohong sama tukang sayur?’ Saling mengintrospeksi, saling mengajarkan antara anak dengan orang tua.

Pengajaran yang diberikan di Eden adalah pelajaran nilai dan moralitas. Hal itu berbeda dengan nilai-nilai masyarakat saat ini yang lebih mementingkan kesuksesan material sebagai ukuran keberhasilan hidupnya.

Ruhul Kudus kemudian mengajak Kaum Eden untuk melihat jalan iblis yang sangat mudah dijajakan saat ini. Software bajakan yang tersebar luas itu disebutkan Ruhul Kudus sebagai jalan iblis yang akan mempengaruhi pikiran para pemakainya. Setidaknya, para pemakainya terbiasa memakai jalan pintas, tak menghargai hasil karya orang lain, dan menganggap kecil dosa kalau ada keinginan yang ingin diraih.

Ruhul Kudus mengajarkan bahwa kemurnian kehalalan yang diusahakan di Eden, sebagaimana software-software yang harus asli sekalipun mahal adalah pelajaran yang berharga bagi Kaum Eden dan anak-anak tentang kesucian. “Surga adalah tempat kesucian. Di situ kau berada, maka itulah nilainya. Kebertahanan dari kemudahan-kemudahan yang mengandung dosa. Sebuah kemahalan, sebuah nilai dari ketahanan iman terhadap segala yang halal.” Ruhul Kudus menyebutkan hal itu sebagai ketangguhan memegang ajaran kesucian dan mengamalkannya. Itulah pengajaran malaikat yang takkan dapat diperoleh dari pengajaran di tempat yang lain.

Ruhul Kudus kemudian membahaskan rencana Fathun Nur Day (Aun) untuk mengambil program S-2 dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang diajukannya. Rencana itu diperbandingkan dengan kehadiran Ruhul Kudus sebagai mahaguru bagi manusia dan kebutuhan dana Kaum Eden untuk membuat production house. Kata Ruhul Kudus, “Kami bukan menghalang-halangi keinginanmu mencari ilmu, bukan kami memburuk-burukkan kebenaranmu. Melainkan kami ingin mengajarkan kepada mereka semua yang ada di sini melihat mana kebenaran yang terbaik, mana kebenaran yang terbenar, mana kebenaran yang mudah diraih dan mana kebenaran yang paling berhasil dan paling bermanfaat.” Ruhul Kudus meminta Aun untuk memilih antara kebenaran yang diajukannya dengan kebenaran yang diajukan Ruhul Kudus.

Dan mengenai rezeki yang dapat datang dari mana saja, Ruhul Kudus mencontohkan melalui peristiwa yang dialami Alfita Adiana (Fita). Dia mempunyai tabungan 400 dollar yang diinginkan Tuhan untuk mempermudah urusan di Eden. Seyakin Fita dengan tabungannya, dia menemukan uang itu tak ada di tempat penyimpanannya. Setelah mencari ke sana ke mari, Fita kemudian berdoa kepada Tuhan untuk menginfaqkan sebagian besar uang itu ke Eden. Akhirnya uang itu ditemukan, 100 dollar dipergunakan untuk urusannya dan sisanya diinfaqkan ke Eden sebagaimana janjinya kepada Tuhan. Kaum Eden tak mengetahui apa yang dimiliki dan dialami oleh Fita, tapi Tuhan Maha Mengetahui dan selalu memiliki jalan untuk memprasaranai urusan-urusan-Nya.

Kisah Fita itu dijadikan penyemangat oleh Ruhul Kudus agar tak menganggap kebutuhan dana Rp 296 juta untuk pengadaan production house sebagai sebuah hal yang mustahil. Jumlah itu sangat besar bagi Kaum Eden dan tak terbayangkan cara untuk mengadakannya, tetapi jumlah uang itu tak ada artinya bagi Tuhan. “Jangankan Rp 296 juta, 296 juta dollar sekalipun bisa diadakan bila Allah menginginkan amanat-Nya sudah harus disampaikan. Maka, janganlah tak mampu membayangkan Surga dan Kerajaan itu di sini sehingga masih bisa teriming-imingi dengan hal-hal yang kecil.

Pada kesempatan itu, Ruhul Kudus mencontohkan prestasi yang dicapai Marike Sukayanti (Marike) dalam pensuciannya. Semua Kaum Eden sangat mengetahui kehidupan Marike dengan lima orang anaknya yang tinggal jauh di Cibinong dan rezekinya langka. Kala pensucian demi pensucian dilampauinya, Tuhan pun membukakan pintu rezeki kepadanya. Dan alih-alih memenuhi impiannya naik taksi ber-AC yang enak bersama-sama anaknya dari Cibinong menuju Mahoni, dia tetap memilih naik bus. Rezeki yang diperolehnya tak digunakannya untuk membeli persediaan makanan bagi anak-anaknya. Tetapi dia menggunakan rezekinya untuk membelikan makanan bagi keperluan perjamuan di Eden. Bahkan dia memberikan uang 500 ribu yang digunakan untuk memperbaiki komputer di Eden.

Itulah prestasi Marike yang dijadikan contoh oleh Ruhul Kudus bagi Kaum Eden. Ruhul Kudus menyebutkan bahwa rezeki yang diperoleh Marike adalah buah dari kemampuannya menundukkan diri dari kelemahannya yang ditegurkan Ruhul Kudus yaitu “ngakal” kala kesulitan keuangan menimpanya. Ketika dia dapat menundukkan dirinya dan memilih untuk berdoa mendekatkan diri kepada Tuhan daripada “ngakal”, maka Tuhan pun membukakan pintu rezeki yang tak diduga-duga baginya melalui berkah mukjizat penyembuhan dan pasien-pasien yang didatangkan Tuhan kepadanya.

Maukah kamu melihat keharuanku dengan air mata ini? Bila aku menyatakan kebahagiaan ini dengan air mata, maukah kamu melihat bahwa aku sesungguhnya ingin memperlihatkan Allah pun bisa menangis bahagia melihat kesucian Marike dari kesalahannya yang selama ini kami tegurkan kepadanya.” Demikian Ruhul Kudus menyatakan keterharuannya atas prestasi kesucian Marike. “Dan bila ini menjadi sejarah, ini akan menjadi pengajaran bagi orang miskin yang banyak anaknya, yang tak tahu harus berbuat apa. Tapi ada Marike, ada kisah Marike yang mengajarkan ketahanan iman, ketawakalan dan keberanian meniadakan keinginan.

Kata Ruhul Kudus selanjutnya, “Tak ada kesucian bila tak ada penauladanan. Tak ada penauladanan bila tak ada ajaran. Tak ada hasil ajaran bila tak ada yang menjalaninya. Dan tak ada ajaran bila tak ada yang berhasil menjalaninya.” Ruhul Kudus kemudian menasihatkan kepada Kaum Eden untuk suci di dalam setiap jalan yang ditempuhnya karena setiap diri mereka menjadi bahan pelajaran. Bila ada diantara Kaum Eden yang sampai pada esensi ajaran Tuhan, maka Ruhul Kudus akan menampilkan mereka menjadi sebuah bahan pengajaran bagi umat manusia.

Ruhul Kudus menyatakan bahwa tegurannya selama ini kepada Marike adalah mengenai anak-anaknya. Ruhul Kudus menyatakan bahwa anak-anak Marike adalah menjadi tanggung jawabnya. Itulah janji Ruhul Kudus atas keberhasilan yang dicapai Marike.

Prestasi Marike itu sangat mengharukan Ruhul Kudus dan Kaum Eden. Dia berhasil melampaui banyak ujian-ujian pensucian yang berat berkaitan dengan anak-anak, kehidupannya yang sulit, dan kelemahan-kelemahan dirinya. Ketika dia lulus dalam pensucian dirinya, Ruhul Kudus menyatakan hal itu sebagai sebuah contoh ketahanan dalam ujian. “Ketahanan memang harus dari ujian yang keras.

Ruhul Kudus kemudian membahaskan jalan kesucian yang beragam. Ada yang jatuh bangun seperti Marike, tetapi ada juga jalan orang-orang yang berhati-hati di dalam pensuciannya sebagai dicontohkan melalui Irham Kurniawan (Irham), Yusuf Amin (Yusuf), serta Nur Aisyah (Nur). Dan kembali pada kasus Fathun Nur Day (Aun), Ruhul Kudus memintanya untuk memikirkan kembali pilihan-pilihan kebenaran yang diperlihatkannya. Nasihat Ruhul Kudus, “Ada kebenaran yang lazim, ada kebenaran yang tegar, ada kebenaran yang berani, tapi ada juga kebenaran yang lemah, ada kebenaran yang bodoh, ada kebenaran yang tidak sempurna. Jadikanlah kebenaranmu itu kebenaran yang berani dan kebenaran yang dapat kau buktikan yang terbaik.”

Pada kesempatan itu, Ruhul Kudus juga menyampaikan teguran kepada Aminuddin Day, mantan suami Bunda, yang sering mendapat titipan nasihat dari Bunda untuk disampaikan kepada Aun. Aminuddin dinilai Ruhul Kudus tak bisa membedakan Bunda Lia yang dulu dan sekarang yang sudah berubah kefungsiannya. Aminuddin dinilai Ruhul Kudus meninggalkan pembicaraan ketika pembicaraan dengan Bunda Lia sedang berlangsung. “Kami bukan Tuhan, tapi kami menyampaikan ajaran Tuhan dan setiap ajaran Tuhan harus ditaati dan setiap ajaran Tuhan harus diamalkan. Dan bila kau bersungut-sungut dan meninggalkan pengajaran Tuhan, maka itulah ketidaktaatan sedangkan kau telah bersumpah akan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ruhul Kudus menasihatkan kepada Aminuddin, “Maka jangan sampai kau bersungut-sungut dan meninggalkan nasihatku bila kamu ingin menjadi seorang Rasul karena perilakumu itu akan tertulis sebagaimana sapaan ini akan tertulis. Maka kau akan tercatat sebagai orang yang pernah mengingkar dan bersungut-sungut meninggalkan pembicaraan dan kau pernah ditegur di majelis. Dan itu pun menjatuhkan harkatmu sendiri sebagaimana kau menjatuhkan harkat Lia yang kau tinggalkan dengan bersungut-sungut. Maka ajaranku ini tertulis dan menjatuhkan harkatmu sendiri. Maka jangan sekali-sekali bersungut-sungut dan meninggalkan pembicaraan dengan kami.

Selanjutnya, Ruhul Kudus meminta Kaum Eden untuk berlatih menyanyikan lagu “Amazing Grace”. Siti Zainab Luxfiati (Dunuk) diminta memimpin suara perempuan, sementara Yusuf diminta memimpin suara laki-laki. Kaum Eden kemudian berlatih bernyanyi bergantian antara suara perempuan dan suara laki-laki. Dan Ruhul Kudus menyebutkan latihan menyanyi itu sekaligus sebagai latihan berbahasa Inggris.

Setelah itu Marike dan Bambang Jatmiko (Bambang) diminta maju ke depan. Ruhul Kudus memberikan hadiah simbolik kepada Marike berupa rangkaian bunga misletu. Selanjutnya, Ruhul Kudus meminta kepada seluruh yang hadir di majelis untuk memberikan sembah hormat kepada pasangan Marike dan Bambang. Itulah tradisi penghormatan yang diajarkan oleh Ruhul Kudus terhadap prestasi kesucian yang diperoleh siapapun yang di Eden. “Itulah kemuliaan. Orang yang disujudi oleh seluruh Rasul dan termasuk Ruhul Kudus bila telah mencapai prestasinya yang terbaik.” Dan setelah Kaum Eden menyanyikan lagu “Amazing Grace” untuk pasangan Marike dan Bambang, Ruhul Kudus menasihatkan kepada mereka untuk menjaga kekekalan prestasi kesucian dan tak terjatuh sebagaimana kejatuhan Arif Rosyad (Arif) yang sedang mendapat hukuman.

Pukul 16.22, Majelis Eden dijeda dengan perjamuan yang didahului dengan doa makan oleh Lilik Haryani (Lilik). Setelahnya, majelis dilanjutkan dengan acara pembacaan puisi yang menjadi tugas rumah minggu sebelumnya. Sebelum membaca puisi, acara dibuka dengan lagu “Edelweiss” yang dinyanyikan bersama oleh Kaum Eden.

Satu persatu Kaum Eden kemudian maju membacakan puisinya. Ruhul Kudus memberikan penilaian atas puisi-puisi yang dibaca Kaum Eden. Jika dianggap belum merupakan suara hati nurani, Kaum Eden mendapat denda. Ada yang didenda Rp 5000, ada yang didenda Rp 7500, ada yang didenda Rp 2500, ada juga yang didenda Rp 10000. Tapi ada juga yang dibenarkan sebagaimana puisi Ietje Ridwan (Ietje), Feri A. Latief (Feri), Ratnawati Haris (Wati), RA Zaitun (Una), Abdul Rahman (Oman), Dunuk, Nur, Yanthi S. Sulistiono (Yanthi), Sumardiono (Aar), Sary Melati (Sary), Rahmad Fadli (Fadli), Ahmad Ridwan (Ridwan), dan Riani Ridwan (Ria).

Pukul 18.09, Ruhul Kudus mengakhiri pengajarannya. Majelis Pengkajian Eden ditutup dengan doa oleh Marike.

Artikel Terkait


No Comments

Comments on this entry are closed.