Melampaui
Seorang murid yang membulatkan diri menempuh jalan Tuhan sedang berdialog dengan-Nya. Dia sedang ditegur Tuhan karena tak dapat meninggalkan kebiasaannya makan diiringi sambal. Kalau tak ada sambal, dia tak bernafsu untuk makan dan memaksakan orang lain untuk menyediakan sambal baginya.
“Mengapa kamu masih tak dapat meninggalkan apa-apa yang kau cintai?” tanya Tuhan.
Murid menjawab dengan sedih,” Tuhan. Bukankah aku sudah meninggalkan apa-apa yang Kau larang? Mengapa aku harus meninggalkan apa-apa yang kucintai dan kusukai?”
“Bukankah engkau sedang menjadi tangan dan kaki-Ku? Bagaimana kamu dapat menjadi tangan-Ku manakala kamu masih memberhalakan sambalmu?”
“Lalu, apakah aku harus menanggalkan semua kesukaanku? Bagaimana dengan rasa cintaku kepada keluargaku?” tanya murid dengan khawatir.
“Tak kuperkenankan itu jika menghalangi keadilan kepada sesamamu.”
Dan menangislah dia mendapati pernyataan dari Tuhannya. Setelah reda dari tangisnya, dia pun berkata: “Jika begitu, ijinkanlah aku agar Malaikat Jibril menjadi satu-satunya yang kucintai selain-Mu.”
“Tak Kuperkenankan pula hal itu,” kata Tuhan.
Lalu menjadi marah dan meledaklah dia.
“Mengapa Engkau demikian kejam dan pencemburu? Mengapa Engkau demikian tak berperasaan?”
Dan tak dapat dikendalikannya dirinya. Tak lagi didengarnya suara-Nya oleh emosi yang memenuhi dirinya. Setelah reda, baru dia mendengar kembali ucapan Tuhan yang penuh mesra dan kasih kepadanya.
“Adakah Aku pernah berlaku seperti persangkaan dan pernyataanmu itu?”
Kemarahan itu segera berubah menjadi ketakutan. Hanya suara merintih yang terdengar.
“Ampunilah aku ya, Tuhan atas prasangka dan perkataanku. Lalu, apa yang harus kuperbuat untuk cintaku kepada-Mu?”
“Cintailah Aku”
“Hanya Engkau ya, Tuhan?” suaranya mulai tertata diantara sesenggukan tangisnya.
“Ya, hanya Aku” kata Tuhan dengan lugas.
“Mengapa hanya kepada-Mu, Tuhan?” tanyanya dengan perlahan dan kepasrahan.
“Karena Aku akan memberikan segala-Nya untukmu. Apakah kamu bersedia melakukannya untuk-Ku, Sayang?” Tuhan bertanya dengan mesra.
Diam. Murid tak berkata apa-apa. Seluruh emosi dan tangisnya telah meluluhlantakkannya. Yang tertinggal hanya sebuah kepasrahannya.
“Baik Tuhan. Aku datang dengan semua kecintaan yang kumiliki hanya kepada-Mu.
Dan Tuhan berkata:
“Aku pun mengijinkan Engkau mencintai yang lain selain-Ku di dalam Aku.”



No Comments
You can track this conversation through its atom feed.
Leave a Reply