…imagine there’s no religion,
just a brotherhood of man…

(Terinspirasi lagu “Imagine”)

Pertama kali tak melakukan sholat dengan sengaja mengakibatkan sebuah lubang besar di dalam hatiku. Demikian juga pertama kali tak melakukan puasa Ramadhan. Belum pernah aku melakukan hal itu sepanjang hidupku. Seingatku aku hanya pernah satu kali tak mengerjakan sholat dengan sengaja, sedangkan puasa belum pernah kutinggalkan sejak aku mengetahuinya sebagai ibadah yang harus kujalani sebagai seorang muslim.

Hari-hari pertamaku menempuh jalan spiritual itu terasa sangat merisaukan. Kegelisahan, bukannya ketenangan menghinggapiku. Aku tetap merasa bertuhan karena eksistensi Tuhan sangat terasa bagiku.

Tetapi meninggalkan ibadah yang biasa kulakukan ternyata menimbulkan rasa tidak nyaman yang sangat. Rasanya aku tengah melakukan kesalahan besar kepada-Nya.

Di dalam kegamanganku meniti jalan Perenial, aku mencoba merenungi semua hal yang telah kulakukan. Yang pertama, aku mencoba mengamati semua proses yang kualami apakah yang kulakukan ini legitimate sebagaimana legitimate-nya ibadah sholat bagiku.

Bagiku, pilihan jalan Perenial itu kuanggap legitimate kalau perintah itu berasal dari Tuhan sebagaimana sholat adalah perintah dari-Nya. Ternyata aku tidak menemukan masalah di dalam legitimasi ini karena aku merasa dua-duanya adalah perintah Tuhan yang sejalan dengan kesadaran diriku.

Aku kemudian mencoba mengamati sholat yang kulakukan. Di dalam proses mengamati itu, aku baru tersadar bahwa ternyata aku sangat melekat dengan sholat. Ibadah adalah sarana menuju-Nya dan aku tersadar betapa melekatnya diriku dengan “sarana” yang membuatku merasa bersalah ketika tak menggunakan “sarana” itu untuk menuju Dia. Padahal aku terus melakukan hubungan dengan-Nya sepanjang hariku. Padahal, Dia sendiri yang memberikan perintah untuk menempuh jalan Perenial itu.

Tiba-tiba aku tersentak, membayangkan betapa licinnya jalan penitian menuju Dia. Ibadah yang seharusnya menjadi pengantar untuk menuju Tuhan pun ternyata dapat menjadi berhala.

Begitu kegamangan pribadiku terurai, tiba-tiba aku merasakan perasaan rileks yang membuatku dapat menikmati kembali rasa keterhubunganku dengan-Nya. Hanya saja, rasa itu ternyata berbeda dengan sebelumnya. Rasa itu berbeda ketika aku beribadah kepada-Nya dengan cara Islam sebagaimana rasa itu berbeda ketika aku berada bersama teman-teman Kristen dan pengurapan Ruhul Kudus.

Di dalam ketenangan baru yang kurasakan, tiba-tiba aku seperti mendapat hikmah: inilah akhir dari dualitas, akhir dari kontradiksi aku dan Dia. Dan perasaan bahwa semua realitas adalah realitas Tuhan, bahwa semua yang ada adalah Dia tiba-tiba hadir semakin nyata. Seperti biasa, semua itu terjadi begitu saja padaku. Terbayang olehku konsepsi pantheis, wihdatul wujud, manunggaling kawula Gusti. Apakah Tuhan hendak mengajariku tentang hal ini? Aku tak tahu…

Berakhirnya dualitas aku-Dia membuatku berada dalam keharuan yang amat sangat. Aku melihat-Nya ada di mana-mana…! Dia ada dalam diriku, Dia ada pada semua yang terlihat dan terdengar olehku…!

“O….” kata-kata tak dapat keluar dari mulutku.

***

Tak ada aku, tak ada Dia, lalu apa? Berarti semua Dia…? So,…?

Berhentinya kegamangan tentang metode dan berakhirnya dualitas, ternyata melahirkan pertanyaan yang lain bagiku. Kegamangan baru pun muncul.

Tiba-tiba saja aku merasa canggung untuk berdoa dan berdialog dengan-Nya. Seakan, kalau aku berdoa kepada-Nya, maka dualitas itu kembali ada: ada aku dan ada Dia. Bukankah Dia dan aku tak terpisah lagi?

Pergulatan pribadi ini terasa berat bagiku. Aku sempat terpikir untuk pergi mengelana mencari kehendak Tuhan bagiku. Dalam kegamangan baru itu, aku kemudian berusaha mencari cara untuk berhubungan dengan-Nya. Sementara di Salamullah Malaikat Jibril menyatakan akan mengajari jalan perenial melalui rangkaian bunga, aku merasa bahwa jalanku bukanlah melalui rangkaian bunga. Jalan Tuhan adalah melalui keindahan dan rangkaian bunga hanya salah satu dari jalan keindahan yang diajarkan-Nya.

Pada awalnya aku mengira bahwa caraku menjaga hubungan dengan-Nya adalah melalui meditasi. Maka aku pun membeli kaset meditasi, membaca buku tentang meditasi, mengkaji meditasi vipassana, membuka-buka file di milis Meditasi Mengenal Diri (MMD), serta mencoba lagi taichi yang sudah lama tak kulakukan. Aku mencoba untuk melakukan meditasi secara khusus, tapi ketika belajar melakukannya aku kemudian merasa bahwa bukan seperti ini jalanku.

Yang kemudian kutemukan cocok adalah pandangan J. Khrisnamurti yang menyatakan bahwa meditasi bukanlah sebuah sikap tertentu dalam waktu tertentu melainkan sebuah sikap dalam kehidupan. Pandangan itu sejalan dengan prinsip taichi yang kukenal sebelumnya. Tanpa sebuah metode tertentu dan waktu tertentu untuk berhubungan dengan Tuhan berarti membangun keadaan sadar dan mawas diri secara terus menerus tanpa putus. Setiap lintasan hati, pikiran, dan setiap gerak adalah kesadaran bersama-Nya. Aku tidak membutuhkan waktu-waktu yang khusus untuk beribadah kepada-Nya. Aku tidak perlu memisahkan kehidupan menjadi hubungan dengan Tuhan (ibadah khusus) dan hubungan dengan yang lain (ibadah umum) karena keduanya adalah satu. Artinya, aku harus menjaga agar keseharianku mempunyai intensitas yang setara dengan intensitas hubunganku dengan-Nya melalui sholat.

Dan aku pun tersadar bahwa aku tak perlu mencari lagi metode yang lain untuk berhubungan dengan-Nya menggantikan sholatku.

***

Walaupun sudah melangkah, ternyata pikiranku masih belum bisa berhenti. Ternyata aku masih membutuhkan tujuan. Aku masih bertanya “apa lagi?”, apa yang menjadi tujuanku selanjutnya setelah hilangnya dualitas. Ternyata sulit sekali bagiku untuk meredakan pikiran dalam kehidupan sehari-hari. Aku mungkin mulai dapat meredakannya dalam waktu-waktu tertentu, tetapi proses peredaan pikiran (quieting mind) itu belum menjadi bagian yang menyatu sepenuhnya dengan diriku. Proses bertuhanku ternyata masih terbebani oleh analisa dan pekerjaan pikiran yang membuatku tak bisa mengalir apa adanya bersama-Nya.

Ketika suatu kali ke toko buku mencari buku di toko buku, tiba-tiba mataku secara tak sengaja tertuju pada buku “Freedom from the Known” karangan J. Khrisnamurti. Padahal buku yang kurencanakan untuk kubeli adalah “Selasa bersama Morrie”, perbincangan tentang kehidupan bersama seorang profesor yang sakit berat dan hampir meninggal.

Melalui buku Khrisnamurti itu kemudian aku menemukan satu frasa di dalam tulisannya yang menyatakan: manakala dualitas berakhir, maka tidak ada pencarian lagi. Frasa itu seolah merupakan jawaban bagi pertanyaanku tentang tujuan. Seolah Tuhan menunjukkan jawaban kepadaku melalui buku itu.

Dengan ketakbutuhanku akan tujuan, aku merasa tak membutuhkan segala macam konsep dan teori. Semua konsepsi dan teori tiba-tiba terasa cair. Konsep dan teori kemudian hanya menjadi saranaku untuk berkomunikasi dengan orang lain, sarana mencerna realitas, tetapi tak menjadi saranaku untuk berhubungan dengan-Nya.

***

Terima kasih Tuhan, hanya ucapan itu yang dapat kukatakan. Dunia terasa lapang sekali bagiku. Tak ada kebencian kepada siapapun, tak ada perasaan lebih baik dari siapapun. Seakan aku ada di semua agama dan kelompok. Seakan aku dipenuhi oleh kelapangan untuk mencintai mereka semua dengan sepenuh hatiku. Seakan Tuhan sedang mengajarkan kepadaku bagaimana sesungguhnya matahari memancarkan sinarnya kepada alam semesta.

Ketika menempuh jalan Perenial ini, aku merasa bersama mereka semua sekaligus tak bersama mereka. Aku tak memperjuangkan dan memenangkan siapapun diantara mereka. Tak ada yang lebih utama selain mereka yang melakukan kebajikan dan kebenaran. Seakan Tuhan sedang mengajariku tentang keadilan-Nya.

Dan Tuhan mengajariku bahwa tak ada kebenaran Islam, kebenaran Kristen, kebenaran Hindu, kebenaran Buddha, kebenaran Salamullah, atau kebenaran-kebenaran parsial lainnya. Tuhan mengajariku untuk tak memperjuangkan kebenaran Islam sebagaimana aku tak diajarkan-Nya memperjuangkan kebenaran kelompok manapun. Yang diminta-Nya kepadaku adalah memperjuangkan kebenaran-Nya yang satu dan tak terkotak-kotak sebagaimana kebenaran berasal dari Dia yang satu.

Dan kini aku sedang belajar mengenali kebenaran-Nya, keadilan-Nya, dan segala pengajaran-Nya. Dan aku belajar dari siapapun dan apapun yang dihadirkan-Nya untukku.

Terima kasih Tuhan untuk pengajaran-Mu kepadaku.

***

Tuhan,

Aku hilang

Aku tak mengetahui apapun

Artikel Terkait


No Comments

You can track this conversation through its atom feed.

No one has commented on this entry yet.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:D :-) :( :o 8O :? 8) :lol: :x :P :oops: :cry: :evil: :twisted: :roll: :wink: :!: :?: :idea: :arrow: :| :mrgreen: