Kemudian kami wahyukan kepadamu:
“Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif..”

(QS An Nahl 16:123)

Tanggal 15 November 2002, di antara puasa bulan Ramadhan, Malaikat Jibril membuat another milestone bagi perjalanan Salamullah. Di hari di saat pemerintah membuat prakarsa hari perenungan tragedi bom Bali, Tuhan menyatakan apresiasi-Nya terhadap inisiatif doa pertaubatan oleh umat Hindu yang dilakukan secara spontan setelah tragedi bom itu berlangsung. Inisiatif ini dikontraskan dengan sikap umat Islam yang merupakan penduduk mayoritas di Indonesia yang tak menganggap semua tragedi dan krisis yang menimpa Indonesia sebagai sebuah pertanda dari Tuhan untuk refleksi pertobatan sebagaimana yang sering dianjurkan Malaikat Jibril melalui maklumat-maklumatnya.

Pada saat bersamaan, Malaikat Jibril menyampaikan teguran tentang praktek bertuhan yang dilakukan oleh manusia pada saat ini yang cenderung hanya mengejar aspek formalitas dan legalitas. Praktek-praktek peribadatan marak, rumah ibadah terus dibangun dan ramai dikunjungi, tetapi kekhusyukan sangat minim. Tak ada perbaikan moralitas dalam kehidupan sehari-hari sebagai buah dari kekhusyukan ibadah. Sementara ibadah marak di mana-mana, Indonesia tetap saja dikenal sebagai negeri dengan korupsi terburuk di dunia yang tak pernah diketahui koruptornya karena keadilan hukum pun telah dikorupsi oleh para pelakunya.

Kemarahan dan kekerasan yang menggunakan dalih agama bertebaran, bahkan intoleransi cenderung meningkat ketika orang semakin rajin dengan kegiatan agamanya. Agama yang seharusnya memberikan panduan nilai dalam kehidupan sehari-hari seolah tak memberikan kontribusi perbaikan sosial apapun. Orang beragama, tetapi tak bertuhan karena Tuhan tak hadir dalam kehidupannya sehari-hari. Orang merasa bersalah ketika tak melakukan ibadah, tetapi tak merasa bersalah ketika minta suap, menyuap, korupsi, atau menebarkan kebencian terhadap pemeluk agama lain.

Dalam teguran-Nya kepada manusia sebagaimana yang dinyatakan Malaikat Jibril, Tuhan kemudian meminta Jamaah Salamullah untuk meretas jalan Perenial, jalan spiritual tanpa syariat. Itulah jalan yang sedang dibimbingkan Tuhan kepada umat manusia pada saat ini. Menurut penjelasan Malaikat Jibril, jalan Perenial adalah jalan yang mengutamakan kekhusyukan dan hubungan yang intens antara manusia dengan Tuhan daripada sekedar memenuhi kewajiban ritual. Inilah jalan yang sedang ditunjukkan-Nya untuk umat manusia sekaligus kritik-Nya terhadap praktek beragama manusia pada saat ini.

Kepada Jamaah Salamullah, Tuhan memberikan dua pilihan: menjadi kaum Islam Perenial atau menjadi kaum Perenial (Spiritual) murni. Jika mereka memilih menjadi kaum Islam Perenial, mereka tetap menjalankan ibadah sebagaimana kaum muslimin pada umumnya. Hanya saja, mereka harus memperjuangkan perenialisme yang ditandai dengan toleransi dan sikap terbuka terhadap agama lain, kelapangan serta kerendahan hati di dalam menjalankan agamanya, disamping menjaga kekhusyukan di dalam ibadah-ibadah mereka.

Sementara itu, bagi mereka yang memilih jalan Spiritual berarti melepaskan dirinya dari keterikatan-keterikatan pada praktek peribadatan dari agama-agama yang ada. Malaikat Jibril menyatakan bahwa dia akan membimbingkan jalan baru yang sedang diajarkan Tuhan ini.

***

Pernyataan Malaikat Jibril itu tentu saja sangat mengejutkan kami semua. Kontroversi secara sosial niscaya akan menyertai pernyataan ini jika sampai terekspos ke masyarakat. Walaupun sebagian diantara mereka dapat menerima penjelasan secara spiritual, tetapi penjelasan tentang perenialisme ini niscaya sulit untuk diterima secara sosial. Bayangan tantangan dan resistensi yang keras dari keluarga terbayang di pelupuk mata manakala kami menempuh jalan Perenial.

Di dalam pilihan untuk menempuh jalan spiritual itu, ada teman-teman yang memang mendapat tugas dari Tuhan untuk merintis jalan Perenial seperti Mbak Dunuk (Siti Zainab Luxfiati). Tetapi ada pula yang ditugaskan untuk berada di Islam Perenial sebagaimana Imam Mahdi Abdul Rahman dan beberapa teman lainnya. Sisanya menjadi pilihan personal sesuai dengan panggilannya.

Ada teman yang selama ini merasa sulit untuk khusyuk dalam sholatnya yang kemudian menyambut gembira pilihan seperti itu, tetapi khawatir dengan konsekuensi sosial atas pilihannya. Ada yang langsung menetapkan pilihannya dalam Islam Perenial karena akar Islamnya yang telah mendalam dalam dirinya. Tetapi ada pula yang langsung memilih jalan Perenial karena merasa bahwa itulah jawaban Tuhan yang ditunggunya dan dianggapnya sebagai jalan masa depan bagi manusia modern untuk berhubungan dengan Tuhan.

Beberapa hari pertama sejak pernyataan Malaikat Jibril itu, keadaan di Salamullah sempat berguncang. Ada yang awalnya sangat gembira dengan pilihan jalan Perenial, tetapi kemudian memilih kembali ke jalan Islam Perenial karena merasa kehilangan hubungan dengan Tuhan. Tiba-tiba, ibadah sholat yang dulunya terasa berat berubah menjadi kenikmatan dan kebutuhan ketika ibadah itu hendak diambil dari dirinya.

***

Ketika teman-teman sibuk berdiskusi tentang pilihan-pilihannya, aku memilih untuk diam. Pilihan ini adalah sebuah lompatan yang sangat jauh. Rasa-rasanya aku terpanggil untuk menempuh jalan Perenial, tetapi aku akar Islamku yang kuat membuatku gamang untuk menempuh jalan Perenial.

Pilihan antara jalan Islam Perenial dan Perenial ini membuka kembali pertanyaanku: dapatkah seseorang mencapai Tuhan tanpa simbol atau haruskah menggunakan simbol (ritual) sebagaimana yang diajarkan oleh agama?

Sebenarnya, aku adalah penempuh jalan Tuhan menggunakan simbol sebagaimana dicontohkan oleh agama Islamku. Aku tak pernah bisa menerima logika orang yang tak melakukan ritual ibadah untuk mencapai Tuhan karena menurutku Nabi Muhammad (yang paling baik beragamanya) saja melakukan ritual ibadah, mengapa orang lain tidak?

Pada saat itu, aku berada dalam dilema antara tarikan hati untuk menempuh jalan Perenial dan logika yang tak mendukung pilihan itu. Sekali lagi, terbayang dalam benakku masa lalu yang telah membentukku menjadi aktivis Islam, inisiatifku untuk membawa keluargaku agar taat dalam beribadah, serta bayangan kekecewaan ibuku. Lagi pula, aku sebenarnya tak terlalu menghadapi masalah dalam kekhusyukan ibadah sholatku.

Tetapi tarikan untuk menempuh jalan Spiritual juga tak kalah besar dalam diriku. Rasanya jalan itu merupakan “next step” yang akan dibimbingkan Tuhan kepadaku setelah jalan yang kutempuh selama ini. Inilah jalah spiritual selanjutnya yang harus kutiti. Selama ini Tuhan sudah mengajarkanku merasakan Tuhan yang Maha Kuasa sebagaimana kurasakan dalam jalan Islam. Tuhan pun sudah mengajarkanku merasakan hubungan dengan-Nya yang sangat personal sebagaimana dalam jalan Kristen. Aku tak tahu hendak ke mana Tuhan membawaku, tetapi rasanya aku sedang ingin dibawa-Nya untuk mengalami proses bertuhan sebagaimana umat Hindu dan Buddha. Itu yang kurasakan, tapi bisa saja aku salah dalam perkiraanku. Selain alasan personal itu, peranku di LSM Perdamaian yang harus mampu menjaga kenetralan diantara kelompok apapun menginspirasikan jalan Perenial kepadaku. Tetapi dorongan yang lebih kuat adalah dorongan personal itu.

Setelah berada dalam kegamangan dan tetap menempuh ibadah sholat dan puasa Ramadhan, pada akhir Ramadhan akhirnya aku memutuskan untuk mengarah ke Perenial. Aku memutuskan bahwa aku tak boleh mengambil keputusan mengikuti ketakutanku. Aku harus mengambil keputusan berdasarkan panggilan suara nuraniku dan itu artinya aku harus dapat melampaui ketakutanku.

Sementara itu, di Salamullah ternyata tak banyak teman-teman yang memilih jalan Perenial. Selain teman-teman yang mendapat tugas khusus, hanya ada beberapa orang yang memilih jalan Perenial. Mayoritas teman-teman memutuskan untuk memilih jalan Islam Perenial. Dengan kata lain, mereka tetap beribadah sebagaimana umat Islam pada umumnya.

***

Di dalam proses mengkomunikasikan jalan Perenial ini ke masyarakat, ada yang keberatan dan membandingkan pengajaran Malaikat Jibril di Salamullah ini dengan pengalaman spiritual yang dialami oleh Syekh Abdul Qadir Jaelani.

Abdul Qadir Jaelani adalah seorang ulama besar Islam. Menurut cerita, pada suatu waktu Abdul Qadir Jaelani sedang sholat, iblis menyamar sebagai Tuhan menyatakan bahwa dia tak perlu lagi sholat karena sudah suci. Tetapi penyamaran itu terbongkar dan Abdul Qadir Jaelani menunjukkan bahwa yang memberi perintah itu bukan Tuhan tetapi adalah iblis.

Cerita itu dinyatakan kepada kami untuk menunjukkan bahwa yang menyampaikan perintah kepada Salamullah sebenarnya bukanlah Tuhan ataupun Malaikat Jibril, melainkan iblis karena perintahnya sama-sama meninggalkan sholat.

Kepada mereka yang menyatakan hal itu, aku hanya bisa mengajaknya untuk mengembalikan semua ini kepada Allah. Biarlah Dia yang akan menjadi hakim bagi kita semua ketika kita menghadap kepada-Nya.

Lagi pula, keduanya mempunyai akar yang berbeda. Tidaklah perintah untuk meninggalkan sholat dan syariat itu disebabkan kami dianggap telah suci. Justru perintah itu mencabut rasa kepemilikan kami yang telah melekat dalam diri kami. Sesungguhnya perintah untuk menjadi Perenial itu disebabkan oleh perbuatan manusia yang telah menyombongkan agamanya dan menganggap bahwa hanya agama serta ritualnya saja yang dapat mengantarkan ke sorga.

Pada saat ini, Tuhan mengajarkan dan menegaskan bahwa bukan agama formal dan ritual yang membawa seseorang pada keselamatan-Nya, melainkan kekhusyukannya dan kebajikan yang diperbuat dalam kesehariannya. Itulah jalan Perenial yang sedang diajarkan Malaikat Jibril pada saat ini.

Sekali lagi, menurutku pengalaman Abdul Qadir Jaelani dan jalan perenial Salamullah walaupun memiliki kemiripan sebenarnya sangat berbeda. Ajakan iblis pada Abdul Qadir Jaelani adalah pemupukan keegoan pada kualitas diri.

Sementara itu, Tuhan mengajarkan kepada Jamaah Salamullah untuk mengendorkan pegangan kepada selain-Nya. Dia sedang mengajarkan manusia untuk melampaui segala sarana yang telah diajarkan-Nya. Ketika Dia mengajarkan cara berhubungan menggunakan sarana sholat, maka kami bertaat dan menerima karunia-Nya itu. Tetapi ketika Dia memerintahkan kami menggunakan sarana lain dalam hubungan dengan-Nya, dapatkah kami menghindar manakala kami yakin bahwa memang Dia yang memerintahkannya?

Artikel Terkait


No Comments

You can track this conversation through its atom feed.

No one has commented on this entry yet.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:D :-) :( :o 8O :? 8) :lol: :x :P :oops: :cry: :evil: :twisted: :roll: :wink: :!: :?: :idea: :arrow: :| :mrgreen: