Buku ini bercerita mengenai pergulatanku di Komunitas Eden, mulai perkenalan, keraguan, dilema, keyakinan, hingga ujian-ujian spiritual yang kualami, baik secara pribadi maupun bersama-sama teman-teman di Eden.

Buku ini hanya ditujukan bagi mereka yang dapat memahami bahwa pergulatan spiritual yang jujur adalah sebuah pencarian kebenaran untuk lebih memahami kompleksitas Tuhan dan Kehendak-Nya. Buku ini tak ditujukan bagi mereka yang berkeyakinan bahwa ajaran Tuhan sudah tercakup secara final di dalam kumpulan doktrin dan aturan-aturan agama yang tinggal dilaksanakan.

Buat mereka yang tak siap melihat perbedaan jalan spiritual, sebaiknya tak membaca buku ini.

BERANDA

Awal pemicu penulisan buku ini adalah dialogku dengan Ibu ketika aku berada di Madiun, sebuah kota kecil di Jawa Timur, pada akhir Desember 2002 yang lalu. Pada waktu itu aku sedang berusaha menceritakan kepada Ibu tentang jalan spiritual yang kutempuh. Sulit bagiku untuk menceritakannya secara lengkap dan mungkin sulit baginya untuk memahami keputusan yang kubuat. Sesampainya kembali di Jakarta, aku memutuskan untuk menuliskan pengalamanku selama kurang lebih enam tahun terakhir yang telah membuat hidupku berubah 180° dari kehidupan yang kujalani dan kucita-citakan sebelumnya.

Ternyata, keinginan untuk berbagi cerita kepada ibuku itu berkembang menjadi keinginan untuk menyusunnya dalam format buku sehingga dapat lebih mudah untuk dibaca. Lalu berkembanglah proses penulisan itu hingga berwujud buku yang hadir di hadapan Anda pada saat ini.

Terus terang aku tak sepenuhnya mengerti semua kejadian yang kualami selama enam tahun terakhir ini. Satu-satunya yang kumengerti adalah: Tuhan yang Maha Baik akan menjagaku selama aku selalu berusaha setia kepada-Nya.

Menjalani semua peristiwa-peristiwa selama enam tahun ini, aku serasa sedang bermain jigsaw puzzle, menyusun sebuah gambar dari potongan gambar-gambar yang lebih kecil. Aku merasa diriku hanya sekeping gambar kecil di dalam gambar besar yang sedang disusun Tuhan. Aku tak tahu potongan gambar yang lain. Aku tak tahu gambar apa yang sedang disusun-Nya. Aku hanya merasa bahwa aku harus terus memperbaiki diriku agar gambarku sesuai dengan yang diinginkan-Nya sehingga gambar itu dapat dipertemukan-Nya dengan potongan gambar lain yang entah berada di mana.

***

Aku sadar, Tuhan yang menyejarah bukanlah sebuah berita yang populer. Dengan bermacam alasan banyak orang yang tak dapat menerima konsepsi Tuhan yang hadir kembali di atas bumi dan berfirman menyampaikan tanggapan-tanggapan dan kehendak-Nya atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di kalangan umat manusia sebagaimana yang tercantum di dalam Kitab-kitab Suci.

Umat beragama sebagaimana umat Islam tak dapat menerimanya karena keyakinan semacam itu dianggap bertentangan dengan doktrin agama yang mereka yakini. Bagi umat Islam, masa Tuhan menyejarah sudah berakhir sejak Tuhan menyatakan bahwa Tuhan telah ridho dengan ajaran yang diturunkan-Nya kepada Nabi Muhammad, Nabi Muhammad dinyatakan sebagai penutup para nabi, dan Al Quran selesai dikodifikasi. Doktrin itu diperkuat oleh fakta sejarah selama 1400 tahun terakhir yang menunjukkan bahwa banyak klaim tentang Tuhan-menyejarah setelah Nabi Muhammad, semisal pengakuan Nabi Baru dan Imam Mahdi, tak pernah memberikan pengaruh yang signifikan bagi peradaban manusia sebagaimana pengaruh Islam dan agama-agama sebelumnya. Bahkan klaim-klaim semacam itu sering menjurus pada pembentukan sekte-sekte (cults) yang eksklusif dan kadangkala melakukan tindakan kriminal yang merugikan masyarakat. Akibatnya, para pemeluk agama menjadi skeptik dan apatis terhadap klaim Tuhan-menyejarah (messianistik), bahkan cenderung bersikap antipati terhadap pernyataan-pernyataan semacam itu.

Pada sisi yang lain, manusia modern yang tak mendasarkan nilainya pada agama juga menentang kehadiran Tuhan-menyejarah dengan alasannya sendiri. Banyak manusia modern yang kecewa dengan wajah intoleransi, radikalisme, dan pembunuhan mengatasnamakan Tuhan yang ditunjukkan oleh para pengikut Tuhan. Belum lagi sikap non-kooperatif yang banyak ditunjukkan oleh pengikut Tuhan yang menganggap kebenarannya absolut sebagaimana kebenaran Tuhan. Pendek kata, sulit bagi banyak manusia modern untuk menerima konsepsi tentang Tuhan, apalagi Tuhan yang ikut mengambil keputusan sehari-hari.

Bagi banyak manusia modern, masa sekarang adalah masa-manusia yang merasa dirinya cukup cerdas serta berkemampuan untuk mengelola bumi seorang diri tanpa campur tangan Tuhan. Keberadaan Tuhan yang menyejarah adalah tantangan yang serius terhadap prinsip tersebut karena Tuhan-menyejarah membawa konsekuensi keberadaan otoritas selain manusia atau otoritas seorang manusia yang mengatasnamakan Tuhan.

Tapi tentu saja Tuhan bekerja dengan logika-Nya sendiri. Dia tak bekerja berdasarkan persetujuan manusia, termasuk persetujuan kita, ahli agama ataupun orang-orang modern. Kehendak-Nya tak membutuhkan persetujuan kita semua. Setuju atau tidak setuju, Dia tetap saja menjalankan apa-apa yang diinginkan-Nya karena Dia adalah yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak.

***

Kepada Ibuku aku mendedikasikan penulisan buku ini; semoga cintaku kepadanya dan cintanya kepadaku dapat menjadi simpul penghubung rencana Allah yang sedang dibentangkan-Nya. Semoga Tuhan senantiasa membimbingku dan membimbing kita semua agar dapat tetap setia kepada-Nya, baik dalam kondisi lapang maupun dalam kondisi sempit. Dan semoga kita semua dapat terus bekerja dan menjadi alat-Nya.

Jakarta, Februari 2003

Artikel Terkait


No Comments

You can track this conversation through its atom feed.

  1. Loving You - Daftar Isi « Turun ke Bumi says:

    [...] BERANDA [...]

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:D :-) :( :o 8O :? 8) :lol: :x :P :oops: :cry: :evil: :twisted: :roll: :wink: :!: :?: :idea: :arrow: :| :mrgreen: