“Hari ini jadi kan ke Salemba?” Pagi-pagi sekali YM bertanya kepadaku. Sudah beberapa hari ini kami memang merencanakan untuk menengok Andit di Lapas Salemba, tapi sudah dua hari tertunda, YM nampaknya ingin memastikan bahwa hari ini kami jadi pergi ke sana.
“Jadi YM,” jawabku. “Mau berangkat jam berapa, kunjungan pagi atau siang?”
Setelah berkoordinasi dengan Nur, isteri Andit, YM memastikan bahwa kami akan pergi siang, sambil membawa makanan untuk Andit.
Setelah mengambil keputusan untuk kembali ke dunia spiritual, tiba-tiba kemarin aku merasa de ja vu dengan apa yang telah terjadi pada beberapa tahun yang lalu.
Saat itu aku sudah tidak bekerja. Dan kami berdua mencurahkan waktu sepenuhnya untuk urusan-urusan spiritual di Eden. Untuk mendapatkan income, kami berusaha melakukan bisnis, tapi selalu berakhir dengan kegagalan karena jadwal dan komitmen bisnis kami selalu kalah prioritas dengan aktivitas spiritual. Akibatnya, expense melebihi income dan mengakibatkan guncangan.
Pagi mulai merekah. Kehidupan di Mahoni mulai menggeliat. Satu demi satu para Rasul Eden keluar dari kamar dan memulai aktivitas sejak pagi. Mencuci, mandi, bersih-bersih, berbelanja ke pasar, dan juga memasak untuk sarapan pagi. Tak lupa, anak-anak bangun berolahraga dan menyanyi pagi untuk menghibur Rasul Yanti yang sakit kankernya semakin parah.
Andreas Harsono, seorang jurnalis investigatif dengan gaya penulisan yang khas membuat liputan yang sangat bagus mengenai Jemaat Ahmadiyah di Lombok.
Liputan yang diberi judul “Ahmadiyah, Rechtstaat dan Hak Asasi Manusia” itu bercerita mengenai nasib Jemaat Ahmadiyah yang terlunta-lunta di tanahnya sendiri. Bahkan bukan hanya terlunta-lunta, mereka diusir, rumahnya dibakar, dan diteror hanya karena keyakinannya berbeda dengan mainstream umat Islam.
Pagi ini, secara tak sengaja aku mendengarkan obrolan di meja makan antara mbak Titing dan YM.
“Beberapa waktu yang lalu secara tak sengaja saya mendengar ceramah dari masjid di dekat rumah yang menggunakan speaker keras hingga terdengar dari rumah ini. Isinya sangat keras,” kata mbak Titing.
Sambil makan, YM menyimak cerita mbak Titing. Aku yang duduk tak jauh dari situ pun ikut mendengarkan.
“Penceramahnya membahas tentang istilah kata ‘Allah’,” lanjut mbak Titing. “Katanya, istilah Allah itu hanya milik umat Islam. Allah itu berbeda dengan Tuhan. Lihat saja, syahadat itu bunyinya tiada Tuhan selain Allah. Jadi, kalau ada yang menyebut Tuhan itu orang atheis.”
Setelah cukup lama tidak menulis blog, hari ini aku ingin mulai menulis lagi. Ini adalah pertanda masa selesainya “puasa nge-blog” alias puasa menulis yang aku lakukan.
Berawal dari keinginan untuk ingin lebih menyelami peristiwa dan menahan diri dari membuat analisis/komentar, aku mulai puasa menulis. Aku tak membatasi sampai kapan puasa itu, walaupun aku merasa berat untuk menjalaninya. Banyak peristiwa di depan mata dan banyak hal yang rasanya bisa dituliskan. Rasanya banyak fragmen-fragmen peristiwa yang terlewat begitu saja tanpa tertuliskan.
Waktunya sudah sampai. Jadwalnya sudah tiba. Malam perguliran tahun 2009 ke 2010 menjadi pertanda bagi kami untuk meniti sebuah perjalanan baru.
Berawal dari wishlist yang diperintahkan kepada seluruh Komunitas Eden untuk malam pergantian tahun, Tuhan memberikan tanggapan-tanggapan yang disampaikan melalui Bunda. Salah satunya menyangkut sebuah keputusan penting untuk kehidupan kami, yaitu Lala dilepaskan dari anggota Dewan Kerasulan Eden untuk meniti jalan spiritual baru di Wahana Kebangsaan, bersamaku. Keputusan itu tertuang di dalam Wahyu Tuhan melalui surat dari Rutan Pondok Bambu yang membahaskan tentang tentang tanggapan-tanggapan Tuhan mengenai wishlist yang dibuat para anggota Dewan Kerasulan Eden dan Wahana Kebangsaan yang sedang mengikuti proses pensucian di Eden.
Puji syukur kepada Tuhan, akhirnya ebook Inkuisisi ini dapat selesai pada waktunya. Buku ini selesai pada 15 Desember, tepat satu tahun sejak penangkapan massal terhadap Komunitas Eden oleh polisi. Mereka ditangkap karena menjalani imannya, bahwa Tuhan sedang berwahyu dan mereka harus menyampaikan Wahyu-wahyu Tuhan kepada pihak-pihak yang dituju. Alasan penangkapan itu adalah sangkaan penodaan terhadap agama Islam yang menyakini bahwa Tuhan tak mungkin berwahyu lagi setelah Nabi Muhammad.
Puji syukur kepada Tuhan. Akhirnya ujian itu terlewati. Beberapa hari yang terasa mencekam karena aku dan Lala nyaris dikeluarkan dari Eden.
Awalnya adalah kiriman lukisan sketsa yang dibuat Bunda yang dikirimkan ke Lala, yang sekaligus menanyakan kabar Lala. Dari sana kemudian Lala dan aku membuat surat balasan kepada Bunda. Ternyata, surat balasan itu direspon dengan sangat keras oleh Tuhan.
Hujan terus mengguyur Jakarta pagi ini. Sampai pukul 12, cuaca masih gelap walaupun hujan sudah mulai berhenti. Mendung menggelayut, seakan tak sabar untuk turun menjadi hujan.
Suasana di Eden masih sepi karena puasa bicara. Ada yang betul-betul tak membuka mulutnya alias berkomunikasi melalui tulisan di kertas. Ada juga beberapa yang masih membuka mulut sedikit, berkata-kata tanpa suara; alias mengecilkan volume bicara.
Tugas kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur & setia. Jujur atas apapun yang kita alami, rasakan, dan pikirkan. Setia pada kebenaran yang dibersitkan Tuhan melalui nurani kita. Semoga Tuhan menguatkan kita untuk selalu jujur dan setia di dalam hidup kita. Amin.
“Maaf copas dari salafytobat.wordpress.com
abu salma, on February 18, 2009 at 3:27 am Said:
perpecahan salafy (bingung sama salafy)
ketika saya datang ke ...”
— Javad Al-Kadzim on Syiah Bangil masih terancam
Recent Comments